Kamis, 14 Juni 2012

Pameran


      A. PRINSIP-PRINSIP PAMERAN DAN PERGELARAN
•Planing atau Perencanaan
•Organizing atau Pengelolaan.
•Acting atau Pelaksanan.
•Controlling atau Pengawasan.
     1. PERENCANAAN
       * Menentukan tema
Tema merupakan pokok pikiran yang menjiwai seluruh kegiatan.Tema harus disesuaikan dengan    
maksud dan tujuan pameran dan pergelaran.

       * Menentukan rencana kegiatan
Untuk menentukan rencana kegiatan dapat dilakukan : jenis karya yang dipergelarkan, orang –
orang yang terlibat dalam pergelaran, waktu yang tepat, alokasiwaktu, jumlah dana, dan bentuk
kegiatan yang akan dilakukan.

      * Menyusun progaram kegiatan.
Progaram kegiatan disusun berdasarkan hasil rencana kegiatan yang telah ditentukan.Agar
program kegiatan dapat berjalan dengan baik perlu dirumuskan tujuan umum pergelaran. Tujuan
khusus, waktu, panitia, hasil karya siswa, bentuk pergelaran, dan biaya pergelaran. 

      * Menentukan tempat pergelaran
Ruang yang cocok untuk kegiatan pemeran atau pergelaran  dapat  digunakan
ruang kelas atau ruang khusus untuk pameran atau pergelaran.

Berkut contoh Perencanaan Pameran dan Pergelaran Seni.
v Tema                   : Dengan semangat sumpah pemuda, kita lestarikan nilai-nilai budaya nasional.
vTujuan                  : Untuk mewadahi dan meningkatkan prestasi belajar siswa di bidang kesenian.
vLatar belakang      : Pameran dan Pergelaran diselenggarakan berdasarkan tuntutan kompetensi belajar mata pelajaran Kesenian.
vSasaran                : Pameran dan Pergelaran diharapkan dikunjungi oleh rekan-rekan sekolah sendiri.
vMateri                    : Gmbar,  lukisan, batik, grafis, benda pakai.
vTempat                  : Pameran dan Pergelaran bertempat di ruang pameran dan pementasan.
vKelengkapan         : papan panel, meja pedestal, lampu spot, katalog, label karya, sound system, panggung, latar panggung, meja, kursi.
vPanitia                   : Susunan Panitia Pameran dan Pergelaran.

vANGGARAN  BELANJA  PAMERAN
•Sumber Dana dari iuran anggota kelas VIII
•Penggunaan Dana
      Membuat Perencanaan                   Rp    10.000,-
      Membuat Poster                              Rp    15.000,-
      Membuat Katalog                           Rp    10.000,-
      Membuat Label Karya                    Rp    10.000,-
      Menyewa Lampu spot                    Rp    20.000,-
      Membuat kuis                                 Rp    25.000,-
      Penatan ruang                                 Rp    10.000,-
                                                                    __________
      Jumlah                                             Rp 100.000,-
2. PENGELOLAAN
v MEMBENTUK KEPANITIAAN
      Contoh panitia pameran dan pergelaran :
•Penanggung jawab          :  Drs. Jaja.A.Zaenudin,MM.
•Penasihat                           :  Yuyum Rumyati, S.Pd
•Ketua    I                             :  Kanigia
•Ketua    II                            :  Vera
•Sekretaris                           :  Resti
•Bendahara                          :  Dwi Rachmawat

vMEMILIH  KARYA
          Pendaftaran hasil karya
          Tujuan pendaftaran hasil karya untuk mengetahui seberapa banyak karya yang akan dipentaskan. Pendaftarannya dilakukan berdasarkan jumlah dan temanya.




        vMenyusun kelengkapan pameran  :
        - Ruang pameran
        - Standar display
        - Sketsel / papan panel
        - Meja
        - Kursi
        - Katalog
        - Buku tamu
        - Sound system
        - Poster untuk publikasi
        - Tape recorder
        - Lampu untuk penerangan ruangan
        - Hiasan untuk dekorasi ruangan
        - Kamera sebagai alat dokumentasi
vPendalaman karya pribadi
        Bertujuan menambah kualitas karya. Karya yang untuk dipamerkan diteliti lagi lebih baik.
3. PELAKSANAAN
vPengorganisasian
       Merupakan kegiatan mengatur, membagi tugas, mengadakan rapat, mengawasidanekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan. Tugas mengorganisasi merupakan tanggung jawab ketua panitia. Meskipun demikian tetap melibatkan semua anggota.
Penatan  ruang  pameran
Pameran dapat dilakukan di tempat tertutup hal ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana aman, nyaman, dan lancar sehingga penonton dapat berapresiasi dengan optimal. 
        4. PENGONTROLAN   ATAU PENILAIAN  ACARA
             Pelaksanaan pameran dan pergelaran akan berjalan baik jika dilakukan pengontrolan dari
awal sampai akhir.
Hal-hal yang perlu dikontrol  :
v Organisasi penyelenggara
        Yang termasuk dalam penilaian ini adalah menguraikan pola atau tata kerja penyerenggara pameran dan pergelaran, baik dari perencanaan, pengorganisasian, maupun penyelenggaraannya.
vKualitas karya yang dipamerkan dan pergelarkan .Yang termasuk dalam penilaian ini adalah menguraikan kelebihan dan kekurangan karya seni.
        Penilaian pameran ditulis secara cermat dan disampaikan secara lisan kepada penyelenggara
dan peserta pamera dengan tujuan dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan. Sedang untuk      
kualitas karya  yang dipamerkan dan dipergelarkan dapat diulas melalui kritik seni.
B. APRESIASI  SENI
        Kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciation yang berarti penghargaan. Pengertian
apresiasi seni adalah kegiatan mengenali, mengamati, menilai, dan menghargai bobot seni . Yang
termasuk sasaran dalam kegiatan apresiasi adalah nilai suatu karya seni.
        Apresiasi juga dapat berupa kritik. Secara umum kritik berarti mengamati, membandingkan,
dan mempertimbangkan. Ada kritik yang bersifat positif dab juga negatif. Kritik yang bersifat
negatif cenderung mengecam kekurangan. Sebaiknya kritik perlu mempertimbangkan hal-hal
yang negatif dan positif.
Kriteria seni rupa
vIde atau gagasan.
vBentuk
vTeknik pembuatan
vFungsi dan Makna.






       




Seni Kriya



Seni kriya sering disebut dengan istilah Handycraft yang berarti kerajinan tangan. Seni kriya termasuk seni rupa terapan (applied art) yang selain mempunyai aspek-aspek keindahan juga menekankan aspek kegunaan atau fungsi praktis. Artinya seni kriya adalah seni kerajinan tangan manusia yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan kehidupan sehari-hari dengan tidak melupakan pertimbangan artistik dan keindahan.
Gerakan seni dan kriya atau lebih dikenal dalam bahasa Inggris sebagai art and craft movement adalah suatu gerakan pada akhir masa revolusi industri yang mementingkan komitmen kerja dan keindahan. Penganutnya menolak estetika yang dihasilkan oleh produksi secara massal, yang dianggap sebab utama hilangnya keindahan individual.
   
1. Seni kerajinan kulit, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah dimasak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya: tas, sepatu, wayang dan lain-lain.
2. Seni kerajinan logam, ialah kerajinan yang menggunakan bahan logam seperti besi, perunggu, emas, perak. Sedangkan teknik yang digunakan biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Contohnya pisau, barang aksesoris, dan lain-lain.
3. Seni ukir kayu, yaitu kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kayu yang biasanya digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain. Contohnya mebel, relief dan lain-lain.
4. Seni kerajinan anyaman, kerajinan ini biasanya menggunakan bahan rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng gondok, dll. Contohnya: topi, tas, keranjang dan lain-lain

5. Seni kerajinan batik, yaitu seni membuat pola hias di atas kain dengan proses teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing). Contohnya: baju, gaun dan lain-lain.
6. Seni kerajinan keramik, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin, pembakaran dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, piring dan lain-lain.
Adapun bentuk-bentuk seni kriya adalah sebagai berikut :
Perisai/Kelembit/Keliau
Merupakan alat penangkis dalam peperangan melawan musuh. Perisai terbuat dari kayu yang ringan tapi tidak mudah pecah. Bagian depan perisai dihiasi dengan ukiran, namun sekarang ini kebanyakan dihiasi dengan lukisan yang menggunakan warna hitam putih atau merah putih. Motif yang digunakan untuk menghias perisai terdiri dari 3 motif dasar:
1. Motif Burung Enggang ( Kalung Tebengaang )
2. Motif Naga/Anjing ( Kalung Aso' )
3. Motif Topeng ( Kalung Udo' )

Selain sebagai alat pelindung diri dari serangan musuh, perisai juga berfungsi sebagai:
- Alat penolong sewaktu kebakaran / melindungi diri dari nyala
   api
- Perlengkapan menari dalam tari perang
- Alat untuk melerai perkelahian
- Perlengkapan untuk upacara Belian
  Kini perisai banyak dijual sebagai souvenir / penghias dekorasi
  rumah tangga.

Ulap Doyo

Kain dari serat daun doyo ini merupakan hasil kerajinan yang hanya dibuat oleh wanita-wanita suku Dayak Benuaq yang tinggal di Tanjung Isuy. Tanaman doyo yang menyerupai pandan tumbuh dengan subur di Tanjung Isuy. Serat daunnya kuat dan dapat dijadikan benang untuk ditenun. Tenunan doyo ini kemudian sering diolah menjadi pakaian, kopiah, dompet, tas, hiasan dinding dan lain sebagainya.

Bening Aban

Alat untuk memanggul anak yang hanya terdapat pada masyarakat suku Dayak Kenyah. Alat ini terbuat dari kayu yang biasanya dihiasi dengan ukiran atau dilapisi dengan sulaman manik-manik serta uang logam.



Sumpitan

Alat yang biasa digunakan untuk berburu atau berperang yang dikenal oleh hampir seluruh suku Dayak di Kalimantan. Alat ini terbuat dari kayu ulin atau sejenisnya yang berbentuk tongkat panjang yang diberi lubang kecil untuk memasukkan anak sumpitan. Sumpitan dilengkapi dengan sebuah mata tombak yang diikat erat pada ujungnya dan juga dilengkapi dengan anak sumpitan beserta wadahnya (selup).

Seraong

Topi berbentuk lebar yang biasa digunakan untuk bekerja di ladang atau untuk menahan sinar matahari dan hujan. Kini banyak diolah seraong-seraong ukuran kecil untuk hiasan rumah tangga.
Ada beberapa teknik pembuatan benda-benda kriya yang disesuaikan dengan bahan. Alat dan cara yang digunakan antara lain cor atau tuang, mengukir, membatik, menganyam, menenun, dan membentuk.
1. Teknik cor (cetak tuang)
Ketika kebudayaan perunggu mulai masuk ke Indonesia, maka mulai dikenal teknik pengolahan perunggu. Terdapat beberapa benda kriya dari bahan perunggu seperti gendering perunggu, kapak, bejana, dan perhiasan.
Teknik cetak pada waktu itu ada dua macam:
a. Teknik Tuang Berulang (Bivalve)
Teknik bivalve disebut juga teknik menuang berulang kali karena menggunakan dua keeping cetakan terbuat dari batu dan dapat dipakai berulang kali sesuai dengan kebutuhan (bi berarti dua dan valve berarti kepingan). Teknik ini digunakan untuk mencetak benda-benda yang sederhana baik bentuk maupun hiasannya.
b. Teknik Tuang Sekali Pakai (A Cire Perdue)
Teknik a cire perdue dibuat untuk membuat benda perunggu yang bentuk dan hiasannya lebih rumit, seperti arca dan patung perunggu. Teknik ini diawali dengan membuat model dari tanah liat, selanjutnya dilapisi lilin, lalu ditutup lagi dengan tanah liat, kemudian dibakar untuk mengeluarkan lilin sehingga terjadilah rongga, sehingga perunggu dapat dituang ke dalamnya. Setelah dingin cetakan tanah liat dapat dipecah sehingga diperoleh benda perunggu yang diinginkan.
Disamping teknik cor ada juga teknik menempa yang bahan-bahannya berasal dari perunggu, tembaga, kuningan, perak, dan emas. Bahan tersebut dapat dibuat menjadi benda-benda seni kerajinan, seperti keris, piring, teko, dan tempat lilin. Saat ini banyak terdapat sentra-sentra kerajinan cor logam seperti kerajinan perak. Tempat-tempat terkenal itu antara lain kerajinan perak di Kota Gede Yogyakarta dan kerajinan kuningan yang terdapat di Juwana dan Mojokerto.

2. Teknik Ukir
Alam Nusantara dengan hutan tropisnya yang kaya menjadi penghasil kayu yang bisa dipakai sebagai bahan dasar seni ukir kayu. Mengukir adalah kegiatan menggores, memahat, dan menoreh pola pada permukaan benda yang diukir.
Di Indonesia, karya ukir sudah dikenal sejak zaman batu muda. Pada masa itu banyak peralatan yang dibuat dari batu seperti perkakas rumah tangga dan benda-benda dari gerabah atau kayu. Benda- benda itu diberi ukiran bermotif geometris, seperti tumpal, lingkaran, garis, swastika, zig zag, dan segitiga. Umumnya ukiran tersebut selain sebagai hiasan juga mengandung makna simbolis dan religius.
3. Teknik membatik
Kerajinan batik telah dikenal lama di Nusantara. Akan tetapi kemunculannya belum diketahui secara pasti. Batik merupakan karya seni rupa yang umumnya berupa gambar pada kain. Proses pembuatannya adalah dengan cara menambahkan lapisan malam dan kemudian diproses dengan cara tertentu atau melalui beberapa tahapan pewarnaan dan tahap nglorod yaitu penghilangan malam.
4. Teknik Anyam
Benda-benda kebutuhan hidup sehari-hari, seperti keranjang, tikar, topi dan lain-lain dibuat dengan teknik anyam. Bahan baku yang digunakan untuk membuat benda-benda anyaman ini berasal dari berbagai tumbuhan yang diambil seratnya, seperti bamboo, palem, rotan, mendong, pandan dan lain-lain.
5. Teknik Tenun
Teknik menenun pada dasarnya hamper sama dengan teknik menganyam, perbedaannya hanya pada alat yang digunakan. Untuk anyaman kita cukup melakukannya dengan tangan (manual) dan hampir tanpa menggunakan alat bantu, sedangkan pada kerajinan menenun kita menggunakan alat yang disebut lungsi dan pakan. Daerah penghasil tenun ikat antara lain
6. Teknik membentuk
Penegertian teknik membentuk di sini yaitu membuat karya seni rupa dengan media tanah liat yang lazim disebut gerabah, tembikar atau keramik. Keramik merupakan karya dari tanah liat yang prosesnya melalui pembakaran sehingga menghasilkan barang yang baru dan jauh berbeda dari bahan mentahnya.

Fungsi dan Tujuan Pembuatan Seni Kriya
1. Sebagai benda pakai, adalah seni kriya yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung.
2. Sebagai benda hias, yaitu seni kriya yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya.
3. Sebagai benda mainan, adalah seni kriya yang dibuat untuk digunakan sebagai alat permainan.













Disadari, bahwa nilai-nilai yang di kandung produk seni kriya tradisional selalu mengalami perubahan dan perkembangan, mengalami kontinuitas dan dekontinuitas selaras dengan tuntutan perkembangan jaman, baik yang terjadi pada masa prasejarah, jaman purba, jaman madia, jaman modern, maupun pada era keterbukaan dan global. Ketika kehidupan manusia berada pada tataran hidup berpidah-pindah dengan kepercayaan animis dan dinamis, maka kehadiran seni kriya sangat bergayut dengan kondisi-kondisi kehidupan kala itu, demikian pula pada jaman purba, jaman madia, dan seterusnya.
Kehadiran seni kriya dapat dinyatakan sangat erat dengan peri kehidupan itu sendiri, seni kriya berasal dari masyarakat dan kembali untuk kepentingan mereka. Seni kriya berada di tengah masyarakat sebagai cabang seni yang membumi dan merakyat

Sejak masa lampau hingga kini. keberadaan seni kriya selalu diburu untuk memenuhi kebutuhan umat manusia. Tidak hanya produknya saja, tetapi keberadaan seni kriya pun, masih menjadi perdebatan hangat.
Perdebatan hangat bagi komunitas kriyawan maupun pengamat senirupa lainnya. Senikriya sebagai cabang dari senirupa merupakan lambang jati diri budaya bangsa. Keberadaannya mencerminkan pola pikir dan perilaku hidup masyarakat pada zamannya.
Pada masa lampau, hingga kini senikriya mengalami perubahan dan perkembangan pesat. Perubahan dan perkembangan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Timbulnya penciptaan senikriya yang mengarah ke produk pemenuh kebutuhan praktis.
Ada juga penciptaan senikriya yang mengarah ke tujuan-tujuan ekspresi pribadi. Hal itu merupakan realitas perkembangan yang lahir berdasarkan kebebasan berkreasi dan eksplorasi. Eksplorasi terus digali dan dikembangkan sesuai dengan jiwa zamannya. Sumber daya budaya lokal, merupakan kekayaan budaya yang takkan habis untuk digali dan dikembangkan. Digali dan dikembangkan sesuai kebutuhan yang diinginkan. Hal itu merupakan harapan dan tantangan bagi komunitas kriyawan, baik melalui pendidikan formal maupun non formal.
Seni kriya terus mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan dan perkembangan itu, terjadi seiring dengan pengetahuan dan wawasan yang dimiliki oleh kriyawan. Senikriya sangat membutuhkan kritikus yang fokus mencermati perubahan dan perkembangan senikriya.
Kritik perlu diberikan kepada karya dan kriyawan itu sendiri, untuk menjembatani dan membangun komunikasi dengan publik. Senikriya seperti senirupa lainnya, perlu memiliki atmosfir komunikasi intensif antar kreator dan apresiator. Komunikasi itu penting untuk menjelaskan apa yang ada dalam benak kreator dan tanggapan atas karya yang diciptakannya.
Menarik apabila mencermati karya hasil kriyawan akademis. Kriyawan akademis merupakan kreator yang terus menerus harus mendapatkan perhatian yang lebih serius. Sri Afriani Sinaga, Dahlia Siahaan, Susanto L.M. Simanjuntak, sebagian kriyawan akademis yang mengenyam pendidikan dan gemblengan di Jurusan Senirupa FBS UNIMED.
 Mereka merupakan kriyawan yang terus menerus bergulat dan mengembangkan senikriya. Mereka selalu menarikan palu dan pahat untuk mendapatkan karya senikriya yang baik. Ketekukan dan kemahiran menarikan palu dan pahat lewat jari-jari manisnya mereka menghasilkan karya seni kriyayang patut untuk dibanggakan.
Berikut nama para seniman kriya  dari luar negeri :


Nama Seniman
William Morris
Owen Jones
Gustav Sticley
Aubrey Breadsley
Arthur Mc.Murdo
Adolf Loos
Michael Tonet


Apresiasi seni
    
Ada banyak daerah di Indonesia yang menjadi daerah sentral produksi karya seni rupa terapan/ seni kriya .
    Buat kelompok kerja , satu kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang. Tentukan daerah yang akan kalian identifikasi , untuk lebih menguatkan data cari buku sumber dari perpustakaan atau data dari internet.
Data yang harus kalian cari :
•Sejarah seni terapan / seni kriya di daerah tersebut .
•Jenis seni terapan / seni kriya di daerah tersebut
•Teknik dan fungsi seni terapan / seni kriya di daerah tersebut
•Corak/motif khas seni terapan di daerah tersebut
•Keragaman nilai seni terapan/ seni kriya di daerah tersebut
•Eksplolasi dan perkembangan seni terapan/seni kriya di daerah tersebut
  Presentasikan hasil laporan kalian dalam bentuk  powerpoint.

























SENI GRAFIS


     Istilah Grafis diambil dari bahasa Inggris graph ataugraphic yang berarti  membuat lukisan, gambar, atau lukisan dengan cara ditoreh atau digores .Grafi atau grafis juga berarti gambaran yang nyata.      Seni Grafis adalah karya seni rupa berbentuk dua dimensi   yang proses pembuatannya melalui proses cetak.      Dalam sejarah kebudayaan di Indonesia, seni cetak sudahada sejak zaman batu dengan bukti gambar cap tangan yang ada di dinding Goa Leang-Leang Sulawesi Selatan.

      RAGAM  SENI  GRAFIS
Teknik cetak afdruk untuk fotografi menggunakan bahan film, kertas foto, dan bahan cuci foto. Untuk alatnya digunakan kamera.
       

        Teknik cetak digital menggunakan bahan kertas dan tinta dengan alat kamera digital, komputer, dan printer.




—Cetak tinggi       : proses pembuatannya melalui tahapan            
 # pembuatan cetakan dari bahan yang dicukil sehingga permukaan     
            menjadi tinggi dan rendah (relief) .
 #Bagian yang tinggi dilumuri  tinta cetak dengan alat rol karet.
 # Kemudian dicetakan pada lembaran kertas sehingga membentuk gambar sesuai dengan cetakannya.
Teknik cetak tinggi menggunakan bahan hardboard,karet,kayu, almunium,atau  kertas tela, cat minyak,dan tinta .
Alat yang dipakai pisau pahat dan rol.
Contoh cetak tinggi  adalah pembuatan cap atau stempel.
       Cetak saring  (screen printing)     : proses pembuatannya melalui tahapan
  #pembuatan cetakan dari bahan screen atau kain yang dilapisi bahan peka cahaya.
  #Screen ditutup film dan dilakukan penyinaran.
  # Screen dicuci dan terbentuklah cetakan berlobang (saring)  sesuai dengan filmnya.
 #  Cat dituangkan diatas  screen sehingga membentuk gambar sesuai dengan cetakannya.
  Bahan yang digunakan  afdruk, seperti cromatine, ulano, cat sablon dan film. Alatnya screen, rakel, dan meja sablon.
 Contoh cetak saring adalah sablon.
       Cetak dalam (intaglio print)            :  Proses pembuatannya melalui tahapan 
   # buat  cetakan dari bahan plat alumunium yang ditoreh dengan dengan alat tajam sehingga membentuk goresan yang dalam .
   # Tinta kemudian dituangkan pada goresan dalam tersebut  dan di atasnya diletakan kertas  yang sudah dibasahi air,
   # Tinta akan melekat pada kertas dan terbentuklah gambar sesuai cetakan.
   Teknik ini menggunakan bahan alumunium , kertas, dan tinta. Sedangkan alatnya paku atau benda runcing.


      Cetak foto atau Fotogarafi  seni grafis yang proses pembuatannya melalui pemotretan dengan kamera, pencucian film, dan pencetakan  gambar foto .
Teknik cetak afdruk untuk fotografi menggunakan bahan film, kertas foto, dan bahan cuci foto. Untuk alatnya digunakan kamera.
        Teknik cetak digital menggunakan bahan kertas dan tinta dengan alat kamera digital, komputer, dan printer.

FOTOGRAFI 
Cetak foto atau Fotogarafi  seni grafis yang proses pembuatannya melalui pemotretan dengan kamera, pencucian film, dan pencetakan  gambar foto .


Rabu, 13 Juni 2012

Mereka

Mereka itu siapa coba? Banyak! Mereka itu temen yang gue kenal, bukan cuman 5orang 10orang 11orang 17orang. Tapi banyak banget :D Mulai dari temen-temen sekolah yang ga ke itung banyaknya sampe temen-temen di basket pun asik-asik!
-Sekian :D

Sabtu, 09 Juni 2012

Pelepasan Kelas 9 SMPN1Kuningan (2011-2012)

Tanggal 9 Juni itu tanggal yang di tunggu-tunggu sama gue, yap! disini kita bakal ngadepin acara perpisahan kelas 9. Yang gue tunggu itu bukan perpisahannya, tapi gue pengen tau aja penampilan kaka kaka kelas, dan alhasil cantikcantik kalau cewek sih, cmn kalau yg cowo sih aku ga bisa nilai hahahaha. Dan yg kedua yg gue tunggu itu gimana acara berjalan, dan alhamdulillah lancaaaaaaar! Mau tau ga? mau tau gaaaa? mau tau aja atau mau tau bgt? mau tau banget yah? gajadi deh hahahaha.